Skip to main content

Tata Cara Berbusana Muslimah Sesuai Ajaran Islam

Busana muslim adalah berbagai jenis busana yang dipakai oleh wanita muslimah sesuai dengan ketentuan syariat Islam, dimaksud untuk menutupi bagian-bagian tubuh yang tidak pantas untuk diperlihatkan kepada publik.

Koleksi Pixabay

Yang pada intinya busana muslimah harus dikaitkan dengan sikap taqwa yang menyangkut nilai psikologis terhadap pemakainya. Untuk menumbuhkan konsep diri busana muslimah semua itu kembali kepada masing-masing individu, namun dengan memperlihatkan bentuk mode (biasa dilakukan dengan tiru-tiru atau iseng-iseng saja), mode ini didalam masyarakat biasanya sangat cepat perkembangannya. Pada dasarnya orang mengikuti mode untuk mempertinggi gengsinya menurut pandangan. Contohnya pada pakaian dan celana) pakaian, warna, keindahan, merupakan salah satu faktor pendukung yang tidak dapat dipungkiri.

Berbusana Muslimah Sesuai Ajaran Islam


Begitu pula dengan berbusana muslimah atau perilaku dalam berbusana muslimah harus menyesuaikan apa yang ia kenakan. Didalam Islam pun mengajarkan etika tentang menutup aurat, atau busana yaitu yang terdapat dalam surat Al-A‟raf :26
Artinya : “Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa[531] Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat”(Q.S. Al-Araf : 26)

Busana muslimah kini bukan lagi secondry apparel, kemampuannya dalam beradaptasi telah mengubah status dan membuat busana muslimah sejajar dengan busana kontemporer.
Islam kemudian memerintahkan wanita-wanita muslim untuk meamakai busana muslimah yang membedakan orang-orang muslim dengan non-muslim. Islam memberikan ketetapan yang begitu jelas dalam Al-Qur‟an sebagai panduan bagi seluruh kaum muslimah dalam berbusana.

Hijab bagi wanita dalam Islam yang dimaksud adalah agar wanita menutup badannya ketika berbaur dengan laki-laki, tidak mempertontonkan kecantikan, dan tidak pula mengenakan perhiasan keculi pada pihak-pihak tertentu.

Jilbab adalah kerudung wanita yang menutupi kepala dan wajahnya apabila ia keluar untuk suatu keperluan. Dan dalam tafsir ayat jilbab dikatakan yang artinya, katakanlah kepada mereka, hendaklah mereka menutupi bagian dada dengan jilbab, yaitu baju panjang yang menyelimuti seluruh tubuh wanita”.

Pengertian ini mengandung maksud bahwa jika mengenakan jilbab dan berbusana muslimah, maka  haruslah  mengenakan  kerudung  (penutup  kepala)  sekaligus  pakaian  yang lebar yang menutupi seluruh tubuh. Dari sisi ini, beberapa bentuk hipermoralitas perempuan muslimah yang berbusana muslimah sebagaimana telah dipaparkan di atas, disebut busana muslimah menurut konsep Islam.

Konsep Busana Muslimah


Islam mengharamkan perempuan memakai pakaian yang membentuk dan tipis sehingga nampak kulitnya. Termasuk diantaranya adalah pakaian yang dapat mempertajam bagian-bagian tubuh khususnya tempat-tempat yang membawa fitnah, seperti: payudara, paha, dan sebagainya.

Dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Ada dua golongan dari ahli neraka yang siksanya belum pernah saya lihat sebelumnya,

  1. Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan memukul orang (ialah penguasa yang zhalim) 
  2. Wanita yang berpakain tapi telanjang, yang selalu maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat. Rambutnya sebasar punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium wanginya, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan yang amat panjang.” (HR. Muslim, Babul Libas)

Mereka dikatakan berpakaian, karena memang mereka itu melilitnya pakaian pada tubuhnya, tetapi pada hakikatnya pakaiannya itu tidak berfungsi menutup aurat, karena itu mereka dikatakan telanjang, karena pakaiannya terlalu sehingga, dapat memperlihatkan kulit tubuh, seperti kebanyakan pakaian perempuan sekarang ini.


A. Jilbab dan Kriteria Sebagai Busana Muslimah


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jilbab berarti sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. Dalam beberapa ayat Al-Qur‟an tentang jilbab atau dalam bahasa Al-Qur‟an disebut hijab selalu dihubungkan dengan larangan menampakan perhiasan.

Yang dimaksud dengan kerudung dalam kalimat “dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” ialah kain yang menutupi kepala, leher, dan dada. Sedangkan kata al-jayb menunjukan makna dada terbuka yang tidak ditutupi dengan pakaian, atau bahkan yang lebih luas dari itu, yakni dada, perhiasan, pakaian, dan make up.

Sedangkan kata perhiasan dimaknai dengan keinginan dan kesenangan wanita mempercantik dan melengkapi dirinya dengan cara apapun, yang nantinya ia tampakan kepada kaum lelaki. Hal ini merupakan fitrah yang tidak mungkin dilarang, karena manusia sangat senang terhadap fitrah dan kesenangannya. Islam datang tidak untuk melarang perhiasan ini melainkan menertibkan dan menetapkan bentuk  yang  wajar yang tidak mengundang nafsu birahi dan  menghadirka dari kejahatan dan kekejian.

Adapun kriteria jilbab dan pakaian muslimah adalah :


  1. Menutup aurat. Sebagai tujuan utama jilbab yaitu menutup aurat. Ada pengecualin terhadap wajah dan telapak tangan. Jilbab seharusnya menjadi penghalang yang menutupi pandangan dari kulit.
  2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan. Tujuan kedua dari perintah menggunakan jilbab adalah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian tidaklah masuk akal jilbab itu sendiri menjadi perhiasan.
  3. Kainnya harus tebal.Sebab, yang menutup itu tidak akan terwujud kecuali dengan kain yang tebal. Jika kainnya tipis, maka hanya akan semakin memancing fitnah dan godan, yang berarti menampakan perhiasan. 
  4. Dalam berpakaian sehari-hari tidak diberi wewangaian. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah Saw. Yang artinya “Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum lelaki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.


B. Sejarah Jilbab Sebagai Busana Muslimah


Jilbab berasal dari akar kata jalaba, yang berarti menghimpun dan membawa. Jilbab pada masa Nabi Muhammad Saw ialah pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan dari kepala hingga kaki perempuan muslimah yang dewasa. Jilbab dalam arti penutup kepala hanya dikenal di Indonesia. Di beberapa Negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, cahrshaf di Turki, hijab di beberapa Negara Arab-afrika seperti di Mesir, Sudan dan Yaman.

Hanya saja pergeseran makna hijab dari semula berarti tabir, berubah makna menjadi pakaian penutup aurat perempuan semenjak abad ke-4 H. berbeda dengan konsep hijab dalam tradisi Yahudi dan Nasrani, dalam Islam, Aksentuasi hijab lebih dekat pada etika dan estetika dari pada ke persoalan substansi ajaran. Pelembagaan hijab dalam Islam didasarkan pada dua ayat dalam Al-Qur‟an yaitu Qs. Al-Azhab/ 33:59 dan Qs. An-Nur/ 24:31.

Jilbab tidak hanya berfungsi sebagai simbol identitas religious tetapi telah memasuki ranah-ranah budaya, sosial, politik, ekonomi, dan bahkan fashion.
Dengan kata lain jilbab telah menjadi sebuah fenomena yang kompleks. Ia tidak hanya menjadi identitas keberagamaan atau identitas seseorang muslimah saja, tetapi juga menjadi identias kultural. Dalam konteks ini jilbab menjadi medan interpretasi yang penuh makna. Gejala semacam ini dengan mudah dapat dijumpai dalam kehidupan sosial. Sebagai contoh, seorang wanita yang pada mulanya sangat alergi terhadap pemakain Jilbab, namun dengan sedikit sentuhan yang agak trend, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, dapat membuat ketertarikan untuk mengenakannya.

Negosiasi lewat media masa dan juga teknologi industri, telah membuat jilbab tampil dalam pusaran ruang publik yang lebih longgar. Jilbab sekarang tidak hanya dimonopoli oleh dunia ritual keagamaan dan menjadi semacam penegasan keimanan, tetapi telah masuk dalam dunia fashion, industri, budaya, dan bahkan gaya hidup.

Konsep Islam Tentang Jilbab

Selanjutnya dapat dilihat bagaimana analisa jilbab dalam perspektif Islam bahwa betapa dimuliakannya kaum wanita, Islam senantiasa membentuk dan menjaga nilai-nilai etik pergaulan. Islam tidak membenarkan kaum wanita harus dipingit dalam rumah seperti tahanan, akan tetapi dengan Jilbab justru untuk melindungi mereka dari bahaya dan kekacauan serta untuk memberantas tingkah laku dalam artian tingkah laku yang tidak pantas.

Jilbab dalam pandangan Islam bukanlah berarti mencabut kepercayaan terhadap mereka akan tetapi suatu upaya dan usaha pemeliharaan kehormatan mereka agar tidak terjatuh dalam jurang kerendahan dan kehinaan. Kedudukan kaum wanita dalam Islam itu betul-betul terhormat yang patut bagi insan yang berakal untuk mengangkat topi serta mengagumi keindahan dan keistimewaan aturan Islam ini.

Busana Muslimah Dan Permasalahannya


A. Pengertian Busana Muslimah

Dalam kejadiannya, manusia dilahirkan kemuka bumi salah satunya membawa potensi malu terhadap lingkungannya dimana ia tinggal. Oleh karena itu, untuk menutupi malunya manusia berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi rapat-rapat, karena jika tidak bisa menutupinya maka aib yang ada pada dirinya akan diketahui orang lain. Secara lahiriah, amnesia melindungi tubuhnya dari berbagai macam gangguan, maka dari itu busana merupakan sesuatu yang mendasar baginya untuk menjaga gangguan tersebut. Bagaimana pun usaha untuk selalu menutup tubuh itu akan selalu ada walupun dalam bentuk yang sangat minim atau terbatas sesuai kemampuan hidupnya, raga akal manusia.

Dengan busana, manusia ingin membedakan antara dirinya, kelompoknya dengan orang lain. Busana memberikan identitas diri sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku sipemakai dan juga dapat mencerimnkan emosi pemakaiannya yang pada saat bersamaan dapat mempengaruhi emosi orang lain. Pada prinsipnya Islam tidak melarang umatnya untuk berpakaian sesuai dengan mode atau trend masa kini, asal semua itu tidak bertentangan dengan perinsip Islam. Islam membenci cara berbusana seperti busana-busana orang jahiliyah yang menampakan lekuk-lekuk tubuh yang mengundang kejahatan dan kemaksiatan.

Konsep Islam adalah mengambil kemaslahatan dan menolak kemudloratan. Pada dasarnya, Islam tidak menentukan model dan coraknya, tetapi Islam sebagai agama yang sesuai untuk setiap masa dan tempat, memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada wanita muslimah untuk merancang mode yang sesuai dengan selera masing-masing. Tak ada mode khusus yang diperintahkan kita dapat mengenakan apa yang kita sukai asalkan tetap pada batas-batas Islam mode bukanlah masalah kita tidak mengikuti secara membabi buta. Kita harus mempunyai kesadaran terhadap busana yang tidak Islami, dan berani menjadi orang yang tidak mengikuti perkembangan mode yang berlaku pada saat itu.

Dalam pengertian berbusana atau berpakaian Al-Qur‟an tidak hanya meggunakan satu istilah saja tetapi menggunkan istilah yang bermacam-macam sesuai dengan konteks kalimatnya.

Menurut Qurais Shihab paling, tidak ada 3 istilah yang dipakai yaitu:

  1. Al- Libas (bentuk jamak dari kata Al-Lubsu), yang berarti segala sesuatu yang menutup tubuh. Kata ini digunakan Al-Qur‟an untuk menunjukan pakaian lahir dan batin.
  2. Ats-Tsiyab (bentuk jamak dari Ats-Tsaubu), yang berarti kembalinya sesuatu pada keadaan semula yaitu tertutup.
  3. As-Sarabil yang berarti pakaian apapun jenis bahannya.

Dari pengertian diatas, dapat ditarik pegertian busana muslim sebagai busana yang dipakai oleh wanita muslimah yang memenuhi, kriteri-kriteria (prinsip-prinsip) yang ditetapkan ajaran Islam dan disesuaikan dengan kebutuhan tempat, budaya, dan adat istiadat.

B. Keharusan Berbusana Muslimah

Sebagaimana  diatas,  busana  muslimah  atau  berjilbab  merupakan pakaian yang dikenakan wanita muslimah selama tidak keluar dari ajaran Islam (syariat). Setiap wanita muslimah diharuskan untuk mengenakan busana muslimah agar terhindar dari berbagai macam gangguan yang datang kepadanya. Pokok pangkal dari busana muslimah bukan apakah sebaliknya wanita memakai busana muslimah dalam pergaulannya dengan masyarakat, melainkan apakah laki-laki bebas mencari kelezatan dan kepuasan memandang wanita. Laki-laki hanya dibolehkan memandang wanita dalam batas-batas keluarga dan pernikahan saja. Hal ini dimaksudkan demi terciptanya keluarga yang bahagia, damai dan berwibawa dan menjunjung tinggi harkat wanita.

Islam meletakan landasan yang kokoh terhadap model busana muslimah yang dapat mengantarkan kepada kemuliaan dan kesucian wanita. Islam sangat memperhatikan masalah wanita karena Islam memandang laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama selama tidak menyalahi kodratnya.

Dalam perkembangannya, busana muslim mau tidak mau harus mengikuti mode dari zaman ke zaman, busana muslim bisa selalu Survivei  ditengah-tengah masyarakat selalu gandrung terhadap mode yang sedang nge-trend jamannya. Dengan demikian, busana muslim tidak akan hilang “eksistensinya” selama ia bisa menyesuaikan dengan zaman. Berkembangnya zaman akan mengakibatkan pada berkembangnya mode termasuk busana muslim. Namun demikian tentunya busana muslim yang berusaha menyesuaikan dengan zamannya tetap harus berada pada prinsip-prinsip yang berlaku sesuai dengan aturan Islam yang notabene berdasarkan Al-Qur‟an dan Al-Hadits.

Adapun prinsip-prinsip yang ditentukan dalam tuntunan Islam antara lain:

A. Prinsip model dalam pemotongan kain yang akan dijahit 
yang dimaksud dengan pemotongan kain (pola) busana tersebut adalah menjahit (pembuatan busana). Jaitan busana seorang wanita, harus sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Islam dibidang penjahit busana tersebut, kemudian mengenai pakaiannya pada badan semua harus memperhatikan kriteria dibawah ini:


  1. Busana harus menyelubungi seluruh badan. Hal di atas dimaksudkan agar pakaian yang dipakai dapat menutupi seluruh badan kecuali telapak tangan dan wajah. 
  2. Busana tidak ketat yang dapat membentuk tubuh pakaian yang ketat yang akan membentuk postur tubuh wanita ataupun sebagiannya. Wanita yang mengenakan pakaian ketat sehingga dapat membentuk potongan-potongan postur tubuhnya dan keluar pada perkumpulan kaum laki-laki, maka busana itu dihawatirkan termasuk kategori diantara pakain-pakaian telanjang. 
  3. Busana wanita tidak menyerupai busana laki-laki tidak diragukan lagi bahwa salah seorang diantara dua jenis menyerupai pada jenis lainnya adalah menyimpang dari fisik, serta sebagai bukti bahwa secara Islam tidak normal lagi. Penyerupaan adalah penyakit yang tidak bisa diobati yang tertaransfer ke dalam budaya kita sebagai konsekuensi dari menguikuti gaya barat. Hal ini merupakan hal yang dilarang agama.
  4. Tidak menyerupai wanita kafir sekarang ini, banyak wanita muslimah yang merancang busananya dengan pola yang bertentangan dengan ketentuan syariat dan norma-norma di bidang busana. 

B. Prinsip yang berhubungan dengan corak (bentuk) busana sebagai berikut:

  1. Tidak menjadikan busana sebagai perhiasan pada dirinya maksud dari busana tersebut adalah pakain yang tampak. Seorang wanita muslimah dilarang memakai pakaian dari sejumlah pakaian, bilamana pakaian-pakaian itu merupakan pakaian tembus pandang sebagaimana dalam pengertian secara umum.
  2. Busana tidak tipis yang masih sesuai memperlihatkan bentuk aurat yang berada dibaliknya. Hal ini sesuai dengan tujuan berbusana yaitu menutup. Tujuan tersebut tidak akan tercapai kecuali dengan busana yang tebal. Karena busana yang tipis itu bukan merupakan busana menurut pandangan Islam.
  3. Busana tidak bercorak glamor dilarang bagi seorang wanita muslimah memilih berbagai corak pakaian yang hanya menuruti tuntutan kesenangannnya dan sama sekali tidak ada relevansinya dengan prinsip-prinsip busana, tidak lain bertujuan untuk menghilangkan pandangan kaum laki-laki kepadanya.
  4. Tidak diberi wewangian atau parfum yang menimbulkan syahwat. Hal ini dilarang karena parfum kehawatiran membangkitkan nafsu birahi. 

C. Fungsi Busana Muslimah

Semakin dinamisnya budaya dan peradaban manusia, maka terciptalah busana yang beraneka ragam motif dan mode. Busana dikenakan manusia tidak begitu saja tercipta dan terpakai tanpa adanya pemikiran tentang fungsi dan tujuan dari berbusana tersebut. Secara umum fungsi mengapa manusia menggunakan busana adalah:


  1. Memenuhi syarat peradaban sehingga tidak menyinggung rasa kesulitan.
  2. Memenuhi syarat kesehatan, yaitu melindungi badan dari gangguan luar, seperti panas, hujan, angin dan alin-lain.
  3. Memenuhi keindahan.
  4. Menutupi segala kekurangan yang ada pada tubuh kita. Dari sudut sosiologis, busana muslimah berfungsi sebagai
  5. Menjaukan wanita dari pergaulan laki-laki.
  6. Membedakan wanita yang berakhlak mulia dengan wanita berakhlak hina.
  7. Mencegah timbulnya fitnah dari laki-laki.
  8. Memelihara kesuciaan agama wanita yang bersangkutan


Fungsi busana muslimah pertama membentuk pola sikap atau akhlak yang luhur dalam diri remaja sebagai pencegah terhadap dorongan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran syariat. Kedua mencegah orang lain untuk berbuat sewenang-wenang terhadap si pemakai.
Dalam Al-Qur‟an, Allah Swt menyebutkan beberapa fungsi busana yaitu:

  1. Sebagai penutup aurat.
  2. Sebagai perhiasan, yaitu untuk penambah rasa estitika dalam berbusana.
  3. Sebagai perlindungan diri dari gangguan luar, seperti panas terik matahari, udara dingin sebagai dan sebagiannya.

Sumber lengkap IAIN Raden Intan - Lampung

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
-->